Sedekah bumi atau yang biasa disebut nyadran masih kental di tengah warga Nganjuk. Salah satunya Desa Gejagan, Kecamatan Loceret, Nganjuk yang dilaksanakan setiap tahun. Ini merupakan wujud syukur masyarakat terhadap Tuhan serta menghormati sesepuh atau pepunden Desa Gejagan. Dalam acara ini hadir Forpincam Loceret serta Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi.
Serangkaian acara kirab dimulai dari balai Desa Gejagan menuju makam sesepuh desa yakni Mbah Iroboyo yang berjarak berkisar satu kilometer dengan membawa tumpeng. Sesampainya di Makam Mbah Iroboyo peserta tumpengan menggelar doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa. Seluruh elemen masyarakata tumpah ruah dalam acara ini seperti perangkat desa, lembaga desa, tokoh masyarakat dan tokoh adat desa. Setelah dilakukan doa masyarakat saling berebut tumpengan. Bukan karena terjadi krusuhan namun karena memang tradisi yang telah lama ada dan hingga kini tetap dipertahankan.
Kepala Desa Gejagan, Dedi Nawan menegaskan jika masyarakat Jawa harus mempertahankan tradisi Jawa yang sebelumnya telah ada. Ia juga bercerita singkat tentang Mbah Iroboyo yang merupakan penemu sekaligus pendiri Desa Gejagan. Sehingga penting untuk berterima kasih kepada beliau melalui acara sedekah bumi kali ini.
“Alhamdulillah hari ini hari yang berbahagia untuk seluruh warga Gejagan dan Pemerintah Desa Gejagan di hari bersih desa nyandran sedekah bumi. Yang setiap tahun kita lakukan rutin sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rejekinya bagi kita semua,”ungkap Dedi.
“Sekaligus sebagai wujud syukur dan terima kasih kita pada cikal bakal Desa Gejagan yang memperjuangkan mbabat tanah Desa Gejagan,”imbuhnya.
Sebagai informasi, serangkaian acara digelar pada tanggal 10 Mei 2025 diawali dengan ziarah Makam Mbah Iroboyo selanjutnya diadakan acara langen bekso atau tayuban, serta pada hari Minggu 11 Mei 2025 pagi mengarak gunungan keliling desa yang diikuti berkisar 1500 peserta dari Desa Gejagan. (gnd)
