đź”´ LIVE Now Streaming: Program Name Watch Replay

Buka Punden di Desa Ngliman, Lestarikan Tradisi Budaya Sejak Zaman Mataram Kuno

Masyarakat Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk melaksanakan prosesi adat Buka Punden pada Minggu (8/6), yang diawali mengunjungi makam sesepuh setempat yakni Ki Ageng Ngaliman Gedong Wetan (timur) dan dilanjutkan ke Makam Ki Ageng Ngaliman Gedong Kilen (barat) di Lereng Gunung Wilis. Keduanya merupakan sesepuh pendiri Desa Ngliman.

Buka punden merupakan adat desa sejak zaman Mataraman Kuno yang secara turun temurun dipertahankan hingga kini dengan menganut hitungan “Aboge” atau sistem penanggalan yang dipergunakan masyarakat Kejawen Islam pada 10 Zulhijjah dan secara penanggalan umum tahun ini jatuh pada tanggal 8 Juni. Mulanya Desa Ngliman ini disebut dengan Desa Ngaliman.

Dalam kegiatan tersebut Pemerintah Desa Ngliman serta Forpimcam Sawahan tampak memakai baju adat Jawa disusul rombongan pembawa bunga tabur, serta barisan masyarakat Desa Ngliman yang berjalan menuju makam sesepuh kurang lebih berjarak 1 km dari titik awal.

Sesampai di makam, serangkaian acara digelar mulai dari membersihkan makam, kemudian doa bersama dengan membaca tahlil. Semerbak harum bunga tabur serta angin pegunungan yang sejuk menambah suasana khusuk. Setelah serangkaian acara doa secara bergilir para pemerintah melangsungkan tabur bunga yang diawali oleh Kepala Desa Ngliman dan dilanjutkan para Perangkat Desa Ngliman dan Forpimcam Sawahan.

Kepala Desa Ngliman, Imam Widodo menyatakan, acara yang telah berlangsung lama ini patut dilestarikan oleh seluruh generasi penerus desa. Selain untuk uri–uri budaya acara ini juga sebagai ajang silaturahmi antar masyarakat.

“Tradisi Buka Punden di Ngliman dan dilestarikan oleh masyarakat yang jatuh pada 10 Dzulhijjah atau tanggal 8 Juni 2025, untuk penanggalan kami menggunakan cara Aboge untuk penanggalan Jawa,” ungkap Imam.

“Sebagai masyarakat Ngliman yang masih kental untuk tradisi adat leluhur kita, tentu harus dilestarikan sebagai wujud penghormatan kepada leluhur kita,” imbuhnya.

Menurut sesepuh yang juga tokoh adat Desa Ngliman, kedua makam tersebut diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Ngliman yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Aktifitas yang di lakukan Ki Ageng Ngaliman juga berkontribusi melawan Belanda pada masa penjajahan dengan mengadakan pelatihan fisik dan mental di padepokan yang bertempat di puncak Gunung Wilis yang disebut “Sedepok”. (gnd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *