Beredar luas di media sosial sebuah rekaman yang menunjukkan aksi kekecewaan seorang perempuan terhadap biaya parkir di kawasan PIPP Kota Blitar yang berdampak pada sepinya wisatawan yang menggunakan jasa becak wisata dari PIPP menuju Makam Bung Karno dan Istana Gebang. Mereka mengeluh pendapatan semakin menurun bahkan sampai tidak ada orderan sama sekali.
Selain jasa becak wisata, penjual buah di area parkir bus tersebut juga mengeluh tak ada pembeli yang datang. Bahkan momen bulan Bung Karno yang biasanya terjadi puncak penjualan kini justru lebih sepi dibandingkan hari biasa.
“Hasil dari becak menurun, keadaan juga sepi. Apalagi sekarang bulan Bung Karno, biasanya penuh pengunjung, sekarang sepi,” keluh Hartono.
“Gara-gara viral video ibu-ibu 3 bus, mulai tanggal 16 Februari itu pendapatan becak menurun. Mulai pedagang kaki lima, pedagang buah sepi semua,” paparnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar, Edy Wasono membenarkan adanya video yang viral tersebut diduga kesalahpahaman antara juru parkir dengan pengunjung. Setelah dipastikan pada pengelola parkir, Edy memastikan tidak ada penyelewengan namun angka tersebut berdasarkan kalkulasi parkir satu bus sebesar Rp18 ribu serta retribusi pengunjung kawasan Makam Bung Karno sebesar Rp4 ribu per orang.
Diketahui pada saat itu setiap bus membawa 60 orang penumpang sedangkan retribusi pengunjung sebesar Rp4 ribu dan jika ditotal maka perbus harus membayar Rp240 ribu. Jika dikalikan 3 bus maka jumlah yang harus dibayarkan seluruhnya yakni Rp720 ribu ditambah parkir tiga bus sebesar Rp54 ribu.
“Setelah cek langsung di lapangan dan juga waktu itu petugas di PIPP menyampaikan yang sebenarnya bahwa pemungutan itu sesuai dengan Perda no 8 tahun 2023 bahwa retribusi bus Rp18 ribu/bus dalam waktu 8 jam, setelah itu untuk retribusi pengunjung sebesar Rp4 ribu,” jelas Edy.
“Pada waktu itu petugas menyampaikan Rp600 ribu kepada ketua rombongan setelah itu menyampaikan kepada pengujung dan kami tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan kepada pengunjung dan akhirnya viral,” imbuhnya.
Setelah ditelusuri, video tersebut direkam pada akhir Februari 2025. Meski kesalahpahaman ini sudah tuntas namun video tersebut kembali menjadi perbincangan hangat di dunia maya maupun lewat pesan berantai. (okt)
