Pabrik Gula Rejoso Manis Indo (PG RMI) menggelar tradisi manten tebu, tradisi ini menandai kembali dibukanya musim pengilingan tebu. Tradisi ini menandai kembali dibukanya musim penggilingan tebu. Tradisi manten tebu merupakan prosesi menjodohkan dua batang tebu sebagai sepasang mempelai.
Dua batang tebu dirupakan sebagai tebu laki-laki dan tebu perempuan yang dihias menggunakan janur. Tebu ini diambil dari lahan petani yang berjauhan kemudian diarak dengan diikuti para dayang untuk dipertemukan sebelum masuk ke penggilingan. Tradisi prosesi manten tebu tersebut diakhiri dengan melempar tebu bersama Bupati Blitar Rijanto, Forkopimda dan Direksi PG RMI di mesin giling tebu.
Public Relation Manager pabrik gula RMI Blitar, Putut Hindaruji mengatakan tradisi manten tebu rutin dilakukan setiap memasuki musim giling tebu sebagai simbol untuk mengeratkan kembali hubungan antara pabrik dan petani tebu. Juga sebagai bentuk doa selamat dan pengharapan.
“Pengantin tebu ini kan kita jalankan dan kita peringati tiap tahun disaat akan menggiling, orang jawa bilang nguri-nguri ngabudayan, kita tidak bisa meninggalkan seni atau tradisi local agar supaya dalam menjalankan ini tetap diberkahi dari awal hingga akhir penggilingan tidak ada masalah,” papar Putut.
Musim giling tebu tahun 2025 ini adalah tahun kelima, PG RMI mentargetkan produksi gula sebanyak 1,4 juta ton tebu. Untuk bahan tebu sendiri diambil dari Blitar, Kediri, Malang dan sekitarnya. (arif)
