Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI) kembali menggelar Rapat Koordinasi Inflasi di Indonesia tahun 2025 di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, Senin (12/4). Rapat tersebut dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Thohir. Rapat ini juga dihadiri oleh Amilia Adhininggar, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS RI), Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Iqbal Shoffan Shofwan, Deputi 2 Bidang Perekonomian dan Pangan KSP, Edi Priyono, dan Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bappenas, Brigjen Pol Hermawan. Hadir juga melalui saluran virtual Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Crishti, Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infestasi, Suwandi, Direktur Pertimbangan Hukum, Silla H Pulungan, beberapa pihak terkait seperti Pemimpin Provinsi dan Daerah serta Forkopimda.
Amilia Adhininggar, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS RI) menyampaikan, menurut data dari BPS indeks perkembangan makanan dan minuman pencatatan hingga April 2025, terdapat 25 provinsi mengalami Indeks Perkembangan Harga (IPH), 12 provinsi mengalami penurunan dan 1 provinsi stabil. Ia menambahkan bahwa cabai merah, cabai rawit dan bawang merah kerap menyumbang inflasi terbesar.
“Bapak dan ibu, 25 provinsi mengalami kenaikan IPH, 12 provinsi mengalami penurunan IPH dan kalau kita perhatikan provinsi-provinsi, 3 provinsi yang mengalami perubahan IPH tertinggi adalah Riau, Sumatea Barat, dan Papua Selatan.” jelas Amilia.
“Kalau kita perhatikan pada komoditas-komoditas yang kami berikan font tebal ini adalah komoditas yang sering memberikan andil inflasi perubahan IPH tertinggi di provinsi tersebut. Cabe merah, cabe rawit dan bawang merah sering dan hampir di seluruh provinsi memberikan kontribusi dalam kenaikan IPH.” imbuhnya. Faktor yang mempengaruhi ketiga komoditi tersebut kerap menyumbang inflasi adalah penanaman terbanyak hanya di Pulau Jawa saja, sehingga harga yang dibebankan di beberapa provinsi cukup tinggi. Sehingga diharapakan setiap provinsi mampu mengelola dan menanam komoditi secara mandiri sehingga inflasi dapat teratasi.
