TULUNGAGUNG – Inilah Budi Tri Satrio pria asal Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung yang aktif membudidayakan lobster air tawar hingga saat ini. Pria yang sebelumnya bekerja di stasiun televisi Surabaya tersebut memilih mengembangkan lobster. Tak hanya budidaya namun juga mengajak masyarakat untuk menggeluti dunia yang sama, mengingat budidaya lobster adalah sektor perikanan yang masih belum banyak digeluti.
Menurutnya perawatan lobster air tawar ini sangat mudah. Tidak banyak mengeluarkan biaya untuk pakan, tidak mudah terserang hama atau penyakit, bahkan harga jual semakin mahal menyesuaikan ukuran lobster. Berbeda dengan ikan lele yang saat ini kerap dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat.
Hingga saat ini masih ada 4 mitra petani lobster yang ia gandeng. Meski begitu, jumlah sekali panen masih belum mencukupi permintaan dari buyer yang mentargetkan dua minggu sebanyak 250 kilogram lobster. Sedangkan dari mitra, sementara waktu hanya mampu panen 5 hingga 10 kilogram dengan masa panen lobster kecil membutuhkan waktu 6 bulan.
Harga lobster saat ini untuk size kecil menembus Rp150 ribu per kilogram, sedangkan untuk grade-A mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Sejak pertengahan tahun 2021 saya memulai budidaya lobster ini karena tertarik minimnya biaya produksi terutama pakan karena dapat menggunakan sampah dapur atau ayam tiren,” jelas Budi.
“Kebutuhan pasar sangat menanti, sering ditantang oleh buyer dengan kapasitas besar yakni 2 minggu saya diminta 250 kilogram,” tambahnya.
Lobster red claw yang dibudidayakan Budi sendiri memiliki warna kebiruan. Berubah menjadi hitam karena berlumut di dalam kolam. Dirinya bercita-cita mengajak banyak petani ikan di wilayah karisidenan untuk berbudidaya lobster sehingga dapat bersama-sama memenuhi pasar konsumsi. (ags)
