Seorang nenek berusia 83 tahun di Desa Katerban, Kecamatan Baron, Kabupaten Nganjuk hidup sebatang kara didalam rumah tak layak berukuran 4 x 6 meter dengan kondisi dinding retak serta atap yang hampir roboh. Untuk kebutuhan makan sehari-hari ia bergantung pada saudara dekat dan seseorang yang dianggapnya seperti anak sendiri.
Ia adalah Suratun, potret kecil dari tingginya angka kemiskinan. Ia menyatakan bahwa dengan kondisinya yang memperihatinkan belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Hal ini juga dibenarkan oleh tetangga dekatnya. Suratun berharap ada secercah harapan agar rumahnya dapat dibangun lebih baik dan layak.
“Saya sendirian, makannya ya dari anak saya (tetangga yang telah dianggap anak) yang depan rumah itu,” jelas Suratun.
“Dari desa saya tidak ingat, sepertinya belum dapat bantuan apa-apa, ya berharap dibantu untuk memperbaiki (rumah),” paparnya.
Melihat kondisi suratun yang memperhatinkan, Kepala Desa Katerban, Warih Ardata sebagai pemerintah desa menyatakan hadir dan akan siap membangun rumah dan fasilitas lebih layak. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nganjuk.
“Jadi di Desa Katerban itu masih banyak rumah yang tidak layak huni dan belum tersentuh, jadi kalau selama menjabat sebagai kepala desa, kalau melihat ada yang kondisinya seperti ini, kita upayakan dan kita usulkan kepada pemerintah daerah untuk segera ditangani,” jelas Warih.
Warih Ardata menambahkan bahwa pihaknya baru mengerti ada warganya yang menempati rumah tidak layak huni mengingat ia baru menjabat beberapa bulan. Namun ia berharap akan bisa lebih bermanfaat bagi Desa Katerban. (gnd)
