Dua balita di Kecamatan Baron, Nganjuk berinisial R-A 13 bulan dan O-B 6 bulan yang beberapa waktu lalu santer diperbincangkan lantaran mengalami kejanggalan paska imunisasi kini mendapatkan perhatian Pemerintah Kabupaten Nganjuk melalui Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, Yuni Marhaen didampingi istri Wakil Bupati Nganjuk, Widhi Trihandy. Dalam kunjungannya Yuni Marhaen akan membantu memfasilitasi keperluan balita dan menjamin balita mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. Pemerintah Nganjuk menggandeng Baznas juga memberikan bingkisan yang diserahkan kepada orang tua balita.
Ketua TP PKK Kabupaten Nganjuk, Yuni Marhaen menyatakan jika pihaknya akan terus melakukan upaya dengan harapan kondisi kedua balita tersebut dapat kembali seperti semula. Seluruh biaya proses rujukan dan tindakan terhadap balita akan ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten Nganjuk. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pembinaan terhadap SDM terkait, seperti bidan dan kader di Kecamatan Prambon khususnya di Desa Katerban, sehingga permasalahan serupa yang membahayakan kondisi balita tidak lagi terulang. Pihaknya juga menghimbau agar para orang tua memberikan hak anak sejak baru dilahirkan dengan pemberian imunisasi tepat waktu serta pemberian ASI ekslusif sejak usia 0 hingga 2 tahun.
“Ini salah satu upaya kita Pemerintah Kabupaten Nganjuk terjun langsung kondisi anaknya, ternyata anaknya sudah ditangani oleh rumah sakit yang juga atas bantuan pemerintah, sudah dirujuk ke Rumah Sakit Dr. Soetomo dan telah melakukan pemeriksaan sebanyak 4 kali serta minggu depan sudah dijadwalkan kontrol” jelas Yuni.
“Kami himbau untuk masyarakat yang memiliki balita itu harus imunisasi dasar harus diberikan sehingga terhindar dari penyakit, ternyata balita ini (R-A) sama sekali belum mendapatkan imunisasi apapun, yang harusnya di usia 9 bulan dia sudah menerima imunisasi campak, ini baru sekali,” imbuhnya.
Orang tua kedua balita mengaku sangat senang dan merasa di perhatikan oleh Pemerintah Kabupten Nganjuk. Mereka mengaku masih mengalami trauma sehingga kedepan akan mengambil alternatif imunisasi melalui puskesmas atau dokter spesialis anak. Mereka juga berharap agar kejadian serupa tidak lagi terulang.
“Semoga anak saya dibantu berobat hingga sembuh, sekalian kejadian ini jangan sampai terulang pada balita lain,” ungkap kedua orang tua balita.
“Sebenarnya trauma tapi tetap harus imunisasi, kalau ada alternatif lain mungkin ke puskesmas atau dokter anak sekalian,” imbuhnya.
Perlu dinformasikan jika dua balita tersebut mengalami kejanggalan pasca imunisasi dengan menurunnya kekuatan kaki dan munculnya benjol diketiak hingga harus melakukan prosedur operasi. (gnd)
