Sejak tahun 2024 Kementerian Pertanian menggencarkan program Listrik Masuk Sawah menyeluruh di seluruh kawasan pertanian di Indonesia. Program ini berkolaborasi dengan PLN yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas sawah dengan pemanfaatan tenaga listrik, salah satunya dengan memanfaatkan pompa air listrik untuk pengairan sawah. Dampak positif penggunaan air dari tenaga listrik petani dapat menghemat biaya operasional dibandingkan dengan menggunakan diesel.
Zainal Arifin, Sekretaris Desa Kelutan menyatakan petani di Desanya sudah merasakan dampak positif dari program Listrik Masuk Sawah di Desa Kelutan, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Ada empat titik listrik berkapasitas 2.200 Volt, sehingga para petani dapat mengairi area persawahannya saat musim kemarau.
“Tujuan adanya listrik masuk sawah itu biar petani itu untuk pengairan lebih mudah disaat musim kemarau. Untuk saat ini sudah berfungsi dari musim kemarau kemarin hingga sekarang, “ ungkap Zainal.
“Manfaatnya sangat mudah mendapatkan aliran air selama musim kemarau kemarin,” imbuhnya.
Basori, Petani di Desa Kelutan membenarkan bahwa penggunaan pompa dengan bantuan listrik jauh lebih terjangkau dibandingkan diesel. Dengan uang 50.000 rupiah, pompa listrik dapat digunakan sebanyak tiga kali, sedangkan diesel hanya satu kali penggunaan dengan nominal pengeluaran yang sama. Sehingga hal ini dapat menguntungkan petani.
“Setelah adanya litrik masuk sawah ini yang saya rasakan itu, kalau pulsa listrik seharga 50 ribu itu bisa digunakan selama tiga kali, sedangkan sekali beli diesel hanya satu kali dipakai,” ungkap Basori.
Program Listrik Masuk Sawah dinilai sangat efektif dan efisien dalam pengelolaan pertanian. Sehingga diharapkan program akan terus dipertahankan seiring digencarkannya program ketahanan pangan nasional. (gnd)
