Umat tionghoa di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Kelenteng Hwie Ing Kiong Madiun memperingati tradisi sembahyang Bakcang atau Duan Wu Jie pada Sabtu (31/5). Tradisi ini jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan lunar dan menjadi momen penting untuk mengenang leluhur serta mempererat kebersamaan keluarga Tionghoa. Di Madiun peringatan ini dilaksanakan secara sederhana tanpa festival meriah seperti lomba perahu naga dan tradisi seperti di kota – kota lainnya.
Sembahyang bakcang berawal dari kisah tragis Qu Yuan seorang pejabat jujur pada masa tiongkok kuno yang difitnah hingga kehilangan kepercayaan raja. Dalam rasa kecewa ia mengakhiri hidupnya dengan melompat ke sungai. Masyarakat yang menyadari ketulusannya kemudian melemparkan bakcang ke sungai agar tubuh Qu Yuan tidak dimakan ikan. Dari peristiwa inilah tradisi makan bakcang dan peringatan Duan Wu Jie bermula.
Martino Liem selaku Ketua Seksi Keagamaan TITD Hwie Ing Kiong mengatakan peringatan ini lebih bersifat kekeluargaan dan reflektif. Selain sebagai penghormatan terhadap Qu Yuan momen ini juga dimanfaatkan untuk mempererat hubungan antargenerasi dalam keluarga. Anak muda diajak memahami nilai kejujuran, kesetiaan dan pengorbanan melalui kisah yang diwariskan oleh orang tua.
“Klenteng TITD Hwie Ing Kiong Madiun memperingati sembahyang bakcang atau Duan Wu Jie, dimana sembahyang ini dilakukan setiap penanggalan lunar dihari ke-5 bulan ke-5,” jelas Martino.
“Dimana terdapat satu sejarah tentang kisah seorang pejabat yang sangat jujur bernama Qu Yuan tetapi difitnah oleh orang-orang yang tidak suka kemudian rajapun percaya, sehingga Qu Yuan tidak terima dan bunuh diri,” paparnya.
“Setelah tahu Qu Yuan merupakan orang baik, masyarakat kemudian membuat nasi kepal yang dibungkus daun bambu yang kemudian dilempar kesungai agar jasad Qu Yuan tidak dimakan ikan,” imbuhnya.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya tentang ritual tetapi juga nilai-nilai moral yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini. Dengan cara ini, nilai luhur dari leluhur tetap hidup dan menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tionghoa di Madiun. (ari)
